Langsung ke konten utama

PENYAKIT KUSTA

 KUSTA

Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 sampai dengan 2017 secara nasional menduduki peringkat ke-3, yakni pada tahun 2015 ditemukan 1.150 kasus, tahun 2016 ditemukan 1.042 kasus, lalu pada tahun 2017 ditemukan 1.103 kasus, dan pada tahun 2018 ditemukan 1.445 kasus baru kusta (Kementerian Kesehatan RI, 2019) dalam (Rokhmah, 2020).

Kusta atau lepra adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Kurang lebih 200,000 kasus yang terdeteksi setiap tahun. Pada awal infeksi, bakteri tersebut menyerang saraf tepi, dan selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang dan juga testis. Oleh karena, bila tidak tertangani dengan baik maka kusta berisiko menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata (WHO, 2020; Gaschignard et al. 2016) dalam (Porong et al., 2020).

Kusta diklasifikasikan menjadi dua yaitu jenis Paucibacillary (PB) atau tipe kering dan Multibacillary (MB) tipe basah (WHO, 2010). Pada kusta pausibasilar (PB), gejala klinis meliputi bercak putih seperti panu yang mati rasa, permukaan bercak kering, kasar, dan tidak berkeringat, batas (pinggir) bercak terlihat jelas dan sering ada bintil-bintil kecil. Kusta multibasilar (MB) dapat diketahui dengan beberapa tandanya adalah bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, pada permukaan bercak sering terdapat rasa bila disentuh dengan kapas, pada permulaan tanda dari tipe kusta basah sering terdapat pada cuping telinga dan muka (Farabi, dkk. 2010) dalam (Porong et al., 2020).

Penularan kusta dapat terjadi apabila M. leprae yang bersifat solid (hidup) yang keluar dari droplet pernafasan penderita masuk kedalam tubuh manusia sehat lainnya melalui saluran pernafasan, selain itu penularan juga dapat terjadi apabila terdapat kontak langsung secara berulang antara penderita dengan orang sehat lainnya dalam kurun waktu yang lama. Penularan penyakit kusta dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu riwayat pengobatan baru atau tidak teratur, suhu yang lembab, kontak massif dengan penderita dan lemahnya imunitas individu (Bhat, 2012) dalam (Porong et al., 2020).

Pengendalian penyakit kusta bertujuan untuk menurunkan penularan penyakit kusta sampai pada level tertentu (eliminasi; ≤ 1 per 10.000 penduduk) sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit kusta dideteksi melalui 2 (dua) cara, yaitu penemuan secara pasif dan aktif. Penemuan secara pasif yakni penemuan kasus kusta dengan cara penderita yang datang ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan atau pelayanan kesehatan lain atas keinginan sendiri atau nasihat dari tetangga, sedangkan penemuan aktif, dilakukan melalui beberapa cara: melalui survai kontak (SKI/ICF), pemeriksaan anak usia sekolah dasar atau sederajat, Chase Survey, dan survai khusus (Kemenkes RI, 2012: 25) dalam (Yunistasari, 2019).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERILAKU HIDUP MENENTUKAN KEJADIAN SCABIES. NAMA : LUCY AZZAHRA AFRILIA NIM : C1AA18062        Penyakit scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit tungau Sarcoptes scabei yang berupaya membentuk terowongan di bawah kulit dan dapat ditularkan lewat kontak langsung manusia.        Tanda dan gejala yang langsung di rasakan oleh penderita scabies adalah gatal. Rasa gatal semakin hebat pada waktu malam hari atau ketika cuaca panas serta penderita berkeringat .        Perubahan perilaku sangat penting untuk keberhasilan intervensi kontrol dan pentinhnya perwatan dini untuk menhentikan transmisi. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terutama dalam hal sanitasi yang buruk dan personal hygiene buruk menjadi faktor resiko tingginya angka penyebaran penyakit scabies. Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya scabies yaitu usia, pengetahuan, sikap, perilaku, kelembaban udara, pencahyaan alami, suh...